Hindari Prilaku Belanja Tidak Sehat (PBTS), Jadilah Pelopor Konsumen Cerdas di Era MEA

1

Sangat kebetulan jika hari konsumen nasional (Harkonas) dan hari Kartini, perayaannya sangat berdekatan. Harkonas di tanggal 20 April sedangkan hari Kartini 21 April. Mungkinkah ini pertanda bahwa konsumen dan perempuan memiliki hubungan yang erat, tentu saja karena konsumen terbesar di Indonesia adalah perempuan. Dan tepat satu bulan kemudian, di tanggal yang sama, 20 Mei, adalah hari kebangkitan nasional. Apa hubungannya ?

Ya, seperti yang Saya bilang, perempuan adalah konsumen terbesar. Ada dua hal yang unik dari perempuan Indonesia yang saya lihat, pertama adalah tidak percaya diri dan kedua mudah tergoda. Sifat ini mungkin sudah kodrat perempuan, dirunut dari Hawa. Karena dua sifat ini, perempuan adalah target pemasaran yang potensial. Iklan-iklan tidak berhenti menciptakan sosok yang sempurna, kurus tinggi langsing dan terutama harus putih. Yang membuat kebanggaan akan kulit sawo matang khas Indonesia menjadi luntur.

Perempuan juga mudah tergoda, menyukai barang-barang yang branded dan produk impor, lebih prestise katanya karena harga dan kualitasnya lebih baik di banding merk lokal. Pelaku usaha pintar menangkap peluang ini, impor dan impor lagi, sesekali di tambahi label limited edition dan pre-order, untuk membuat banyak perempuan mengantri panjang. Sekali lagi kebanggaan akan merk lokal menjadi luntur.

—-

Selain fenomena perempuan modern dengan konsumerisme-nya dan nasionalisme-nya diatas, yang tidak bisa kita tutup mata, adalah kecerdikan produsen yang tidak hanya promosi melalui cara-cara tradisional yaitu melalui iklan di berbagai media dan mengandalkan direct selling melalui sales-sales, tetapi produsen juga cerdik memanfaatkan orang-orang terdekat untuk melakukan pemasaran.

Fenomena Multi Level Marketing (MLM) adalah salah satunya, dimana banyak yang tergiur akan reward yang ditawarkan, sehingga mempengaruhi keluarga atau orang terdekat untuk menjadi anggota dan tester produk, bahkan terjebak membeli produk dengan harga mahal hanya untuk mengejar poin. Dan perlu di catat kebanyakan MLM dengan omset besar di negeri ini di kelola oleh Perusahaan Asing dengan produk-produk yang diimpor dari negara luar.

Dari orang terdekat pula, baik keluarga, sahabat, teman dalam komunitas atau dalam acara kumpul-kumpul/arisan, sering ditemui pesan promosi melalui testimoni yang berujung memberi rekomendasi untuk membeli produk tertentu. Testimoni dari orang terdekat ini yang akhirnya mempengaruhi keputusan konsumtif kita.

Tidak hanya hubungan kekerabatan, prilaku konsumtif masyarakat kita meningkat tidak terlepas dari perubahan pola transaksi jual beli dari konvensional ke berbasis teknologi. Konsumen mendapat kemudahan dan pilihan yang lebih baik di era digital. Perang diskon, reseller serta beragam program reward telah memancing sifat ketagihan konsumen yang membuat mereka selalu tertarik dengan produk-produk keluaran terbaru, meski produk yang sama telah di miliki. Pembelian barang tidak lagi di dasari atas kebutuhan, tetapi telah beralih atas dasar keinginan.

Dari ketiga uraian diatas, Saya ingin menggambarkan bahwa strategi pemasaran untuk mendatangkan produk-produk luar ke dalam negeri telah di tempuh dengan berbagai cara; pada uraian pertama, bagaimana penerapan pemasaran dengan perubahan pola pikir telah berhasil menggeser kebanggaan akan identitas dan nasionalisme, uraian kedua mengambarkan strategi pemasaran dengan mengikat kuat konsumen loyal dan royal, dan pada uraian ketiga menggambarkan bagaimana teknologi menjadi alat efektif dalam berbelanja dan mendatangkan produk luar sekaligus menjadi alat efesien memancing sifat konsumtif.

Pada prinsipnya belanja berbagai keperluan baik secara konvensional atau lewat teknologi bukan sebuah hal yang dilarang, karena belanja akan mendatangkan kebahagiaan dan kepuasan serta meningkatkan kesejahteraan banyak orang. Tetapi perlu diperhatikan bahwa prilaku belanja dengan mengabaikan akan kebanggaan identitas, keberlangsungan produk dalam negeri, tidak sesuai dengan kebutuhan dan kekurang hati-hatian dalam membeli adalah prilaku belanja tidak sehat (PBTS) yang harus dihindari karena akan mempengaruhi kualitas hidup dan kesejahteraan keluarga. Prilaku konsumtif seperti ini menjadi salah satu penyakit dalam Revolusi Mental. Obat dari penyakit ini adalah dengan menjadi “Konsumen Cerdas”.

Membudayakan Konsumen Cerdas sebagai Gaya Hidup

Konsumen cerdas adalah konsumen yang teliti dalam membeli sehingga tidak terjebak dalam perang pemasaran serta mengerti akan hak dan kewajiban konsumen. Seiring dengan telah diberlakukannya era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada awal 2016, dimana pangsa pasar meluas tentu saja kita sebagai konsumen dihadapkan pada serbuan beragam pilihan produk dari berbagai negara di ASEAN. Di sini pentingnya kita menjadi Konsumen Cerdas.

Adapun panduan bagi Konsumen Cerdas Indonesia dalam menghadapi MEA adalah dengan mengikuti 7 langkah dari Kementerian Perdagangan Republik Indonesia sebagaimana terdapat dalam gambar dibawah ini :

2

Dalam hal ini hak konsumen yang harus ditegakan adalah :

  • Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan jasa
  • Hak untuk memilih barang dan jasa serta mendapatkan barang dan jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan
  • Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan jasa
  • Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan jasa yang digunakan
  • Hak untuk mendapat advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut
  • Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen
  • Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif
  • Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan atau penggantian, apabila barang dan jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.

Untuk menjadi konsumen cerdas seperti 7 langkah diatas sangat mudah, tidak mengharuskan memiliki IQ yang tinggi. Tetapi tantangan terbesar dari konsumen cerdas ini adalah bagaimana membudayakan gerakan konsumen cerdas sebagai gaya hidup. Terinspirasi dari Kartini, yang mampu melepas belenggu kelam bangsa, maka komitmen, kerja keras  dan visi bersama para konsumen Indonesia yang akan menciptakan perubahan.

Dengan menjadi gaya hidup, tanpa harus dibimbing dan diingatkan, konsumen akan terbiasa teliti dan waspada. Prilaku ini akan muncul dengan sendiri, jika konsumen menerapkan langkah ini secara berulang-ulang ketika sedang berbelanja. Prilaku ini juga harus ditanamkan sedari dini kepada anak-anak dan generasi muda sebagai cikal bakal konsumen di masa depan. Pemerintah disini berperan dalam mengkampanyekan  terus menerus, agar tujuan konsumen cerdas sebagai gaya hidup membudaya secara semesta.

Keuntungan jangka panjangnya adalah konsumen Indonesia tidak akan terjebak dan mudah dirayu dengan berbagai strategi pemasaran dalam MEA yang terus bertransformasi yang tidak terbatas lagi dari periklanan, MLM, testimoni, sampai dengan program diskon dan reward tetapi mungkin ke strategi pemasaran baru lainnya.

Pilih Produk Ber-SNI

Dengan begitu bebasnya perdagangan di era MEA, konsumen cerdas perlu memahami standar mutu agar mendapat jaminan bahwa produk yang di beli telah melalui serangkaian proses dan uji dalam memastikan kualitasnya. Standar Nasional Indonesia yang selanjutnya disingkat SNI adalah standar yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) dan berlaku di wilayah negara kesatuan Republik Indonesia. Perumusan SNI ini berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian. Cara mudah mengenali barang yang telah terpenuhinya persyaratan SNI adalah melalui Tanda / Logo SNI yang dibubuhkan pada barang dan atau kemasan atau label. Jadi sudahkan barang yang anda beli ada logo SNI nya, silahkan mulai di cek  ?

index

Manfaat Konsumen memahami SNI selain mendapatkan jaminan mutu atas produk yang di beli, juga mendapatkan perlindungan konsumen baik dari aspek keselamatan, keamanan, kesehatan, maupun pelestarian fungsi lingkungan hidup (K3L) atas produk yang di beli atau di konsumsi.

Karena tidak dapat kita pungkiri bahwa perdagangan yang bebas di era MEA, akan banyak produk-produk yang beredar terutama produk mainan anak dan produk-produk kosmetik yang mengandung bahan kimia berbahaya dan tidak sesuai SNI, produk fashion impor yang tidak memenuhi syarat kelayakan secara kesehatan serta produk makanan dan minuman yang mengandung zat-zat berbahaya seperti formalin dan borak serta di proses secara tidak higienis. Dengan SNI, produk yang kita beli juga akan terjamin ramah lingkungan karena dalam proses produksi tidak merusak fungsi lingkungan hidup.

Multiplier Effect Jadikan Produk Dalam Negeri sebagai Pilihan Utama

Untuk membangun impian bersama menjadi bangsa yang maju, konsumen Indonesia selain harus memahami SNI, juga harus menjadikan produk dalam negeri sebagai pilihan utama karena produk-produk dalam negeri memiliki daya saing yang tidak kalah dengan produk impor.

Bermodalkan jumlah konsumen terbesar ke-4 di dunia dan pertumbuhan pengguna internet yang mencapai 139 juta pengguna di tahun 2015 dan terus bertumbuh, menjadikan potensi penjualan langsung produk dan jasa serta potensi e-commerce di Indonesia sangat besar. Dengan menyadari potensi besar pasar Indonesia, sudah sepatutnya kita sebagai konsumen cerdas yang hidup di republik ini, untuk menjadikan produk-produk dalam negeri sebagai pilihan utama.

Dalam menyikapi era MEA, jangan sampai pangsa pasar yang besar ini menjadi lahan subur bagi pelaku usaha asing untuk meraup keuntungan besar karena kelalaian kita selaku konsumen yang tidak memiliki nasionalisme tinggi dan cinta akan produk dalam negeri. Dengan membeli produk dalam negeri, uang akan berputar di dalam negeri,  multiplier effect-nya tentu saja akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara signifikan dan berkesinambungan, terserapnya tenaga kerja, pertumbuhan industri-industri kreatif, dan meningkatnya devisa bagi negara serta berujung pada kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Secara nyata, multiplier effect bisa dipahami sebagai berikut; saat  kita sebagai konsumen membeli kopi buatan dalam negeri semisal merk A yang unit produksinya ada didaerah kita, uang yang didapat oleh produsen di gunakan untuk membayar gaji karyawan, membeli bahan baku produksi dan membayar pajak. Uang kemudian mengalir ke petani lokal karena bahan baku kopi di beli dari mereka, yang berarti telah tercipta pemberdayaan masyarakat lokal, uang yang diterima karyawan dan petani pun digunakan untuk membeli kebutuhan pokok sehari-hari, sedangkan uang yang menjadi keuntungan produsen kemudian diinvestasikan untuk menciptakan varian produk lain dan produk-produk kreatif lain, sehingga membutuhkan tenaga kerja baru, yang berarti perlu merekrut para penganguran dari daerah tersebut. Dengan pajak yang diterima di negara, negara kemudian akan membangun jalan dan pasar. Perputaran uang yang seperti ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang meningkat dan berkelanjutan. Disini terlihat jelas bahwa kita sebagai konsumen  adalah subjek penentu ekonomi.

Multiplier Effect

Pelopor Gerakan Koncer dan MEA sebagai Momentum Kebangkitan PDN

Demi mewujudkan cita-cita bersama menjadi bangsa yang besar dan maju, untuk itu dari sekarang, kita harus menjadi pelopor gerakan konsumen cerdas, mandiri dan cinta produk dalam negeri. Saya adalah pelopor gerakan konsumen cerdas, yang menunjukan bahwa Saya telah menerapkan 7 langkah sebagai Konsumen Cerdas dan telah mengedukasi keluarga dan orang terdekat untuk melakukan hal yang sama.

Tidak dapat dipungkiri ada puluhan bahkan jutaan penduduk Indonesia dari bayi, anak-anak sampai orang tua yang berpotensi memiliki prilaku konsumtif yang mengkhawatirkan karena ketidaktahuan informasi mengenai 7 langkah menjadi konsumen cerdas. Dengan hari Konsumen yang jatuh pada setiap tanggal 20 April,  maka kewajiban kita bersama untuk saling mengingatkan dan mengedukasi betapa pentingnya menjadi konsumen cerdas.

Selain itu, hari konsumen nasional (Harkonas) 2016 dan diberlakukan sistem ekonomi terbuka MEA dan mendekati tanggal 20 Mei sebagai hari kebangkitan nasional harus menjadi momentum kita bersama akan kebangkitan produk dalam negeri. Pemerintah harus menjamin paket-paket kebijakan ekonomi yang diluncurkan harus memberikan dampak yang real terhadap terciptanya stabilitas ekonomi makro dan menjamin berkembangnya industri-industri kreatif di era digital tanpa dikekang dengan peraturan yang masih konvesional. Sedangkan pelaku industri harus bersama-sama menciptakan iklim persaingan usaha yang sehat yang menghasilan produk dalam negeri dengan daya saing tinggi.

[selesai]

Artikel ini diikutsertakan pada “DJPKTN
BLOG WRITING COMPETITION 2016″

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s