Ketika Masyarakat “Dipaksa” Beradaptasi Terhadap Perubahan Iklim

Oleh Sinly Evan Putra

Waktu untuk Beradaptasi

“Alam selalu lebih ganas membalas perilaku manusia” itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan bahwa kekuatan alam tidak akan pernah bisa di kalahkan oleh manusia. Semodern apapun teknologi dan strategi manusia, sampai saat ini belum ada yang mampu menandingi kekuatan alam.

Untuk kesekian kalinya alam menunjukkan kekuatannya, lewat kekuatan yang bernama “Perubahan Iklim”. Perubahan iklim telah memaksa manusia menjalani hidup tanpa kepastian.

Salahkah alam ?

Alam tidak pernah salah. Alam di ciptakan dalam sebuah siklus keseimbangan. Kita lah manusia yang secara sadar telah merusak tatanan keseimbangan alam. “Perilaku” adalah jawaban atas kesalahan kita sebagai manusia. Perilaku kita selama ini tidak memahami karakter kehidupan alam, kita tidak menyadari bahwa kerusakan alam akan selalu memberikan pengaruh negatif terhadap manusia dan alam perlu waktu yang panjang untuk kembali dari kerusakan ke keadaan semula.

Sadar atau tidak berbagai perilaku kita sebagai manusia dengan dalih modernisasi dan peningkatan kesejahteraan telah membuat kita mengabaikan keseimbangan alam. Berbagai polutan udara terutama karbon selalu kita alirkan dengan cepat ke atmosfer, baik dari kendaraan yang kita gunakan, pembakaran hutan, aktivitas industri, ataupun berbagai aktivitas lain. Itulah beberapa aktivitas yang telah menyebabkan perubahan iklim terjadi lebih cepat dan ekstrim dari pada sebelumnya. Perubahan iklim ini menyebabkan kita tidak mampu lagi memprediksi tentang iklim dalam hitungan matematis.

Dalam setiap perubahan akan selalu memberikan pengaruh positif dan negatif bagi manusia. Tetapi sayangnya perubahan iklim lebih banyak memberikan pengaruh negatif bagi manusia. Berbagai fenomena-fenomena bencana alam akibat perubahan iklim telah menimbulkan duka tersendiri bagi manusia.

Di Indonesia, meskipun hanya terdapat dua musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau, tetapi itu cukup untuk memaksa masyarakatnya untuk berduka. Perubahan iklim ekstrim telah memaksa terjadinya perubahan dalam distribusi curah hujan. Perubahan ini biasanya di hubungkan dengan fenomena El Nino Southern Oscialltion (ENSO) di mana akan terdapat kemarau yang panjang di Indonesia pada tahun-tahun El Nino dan curah hujan tinggi pada tahun-tahun La Nina.

Dampak dari perubahan ini menyebabkan berbagai potensi bencana alam akan sering terjadi. Untuk daerah dengan curah hujan tinggi akan rentan dengan resiko banjir, longsor, peluapan sungai dan penyebaran vektor penyakit. Sedangkan untuk daerah dengan curah hujan rendah akan berpotensi terjadinya kekeringan, gagal panen, kekurangan air bersih dan berbagai permasalahan sosial lainnya. Sayangnya bencana alam ini tidak hanya untuk menghukum para pelaku, tetapi juga berimbas bagi manusia lainnya. Selain berpotensi bencana alam, dampak lain dari perubahan iklim ini adalah membuat harga pangan melonjak naik, hasil tangkapan laut yang berkurang, rusaknya berbagai infrastruktur dan berkurangnya sumber-sumber air.

Masyarakat sebagai kumpulan komunitas manusia yang merasakan dampak langsung perubahan iklim ini pun “dipaksa” untuk terus bertahan hidup dalam ancaman. Resiko kekeringan dan curah hujan yang tinggi adalah resiko yang telah menjadi keseharian mereka.

Masyarakat dan Adaptasi Perubahan Iklim

Perubahan iklim telah terjadi. Bagi sebagian besar masyarakat itu dianggap sebagai kehendak Tuhan. Sebagai manusia, mereka hanya menjalani peran sebagaimana kodratnya yaitu untuk bertahan hidup. Adaptasi atau penyesuaian diri adalah jalan keluarnya, berbagai bencana yang di timbulkan oleh perubahan iklim di sikapi dengan menjadikannya sebagai pengalaman hidup.

“Perubahan iklim” adalah kata yang terlalu ilmiah, jadi Jangan banyak bertanya kepada mereka tentang “perubahan iklim” apalagi tentang “karbon dioksida”, karena itu tidak familiar di telingga mereka. Tetapi tanyakan saja tentang hasil kebun, hasil tangkapan, harga sayur, sumur kering, ataupun tentang terik matahari yang kian panas.

Karso, seorang penarik becak sepeda di salah satu sudut kota tempat saya tinggal di Kepahiang-Bengkulu, hanya bisa terus menanti penumpang, dia tidak takut bersaing dengan banyaknya kendaraan bermotor ataupun dengan ojek motor. “rejeki di tangan Tuhan” itu lah yang bisa di ucapkan. Keluhannya hanya pada harga barang kebutuhan pokok terutama beras dan sayuran yang terus naik yang tidak sebanding dengan pendapatannya. “Cuaca sekarang sering tidak menentu” itulah jawabnya ketika di tanya tentang cuaca. Berhemat dan mempersiapkan diri dengan topi dan mantel adalah persiapan Karso menghadapi kerasnya hidup dan perubahan iklim.

Karso-dan-KawanKarso terus menanti dan tidak takut bersaing dengan kendaraan bermotor

Tidak jauh berbeda dengan Karso, Rasuli, lelaki paruh baya yang mengarap salah satu petak sawah di Desa Nanti Agung. Tidak bisa berbuat banyak dengan cuaca. Rasuli hanya mengikuti ide bersama sesama petani, mereka tanam padi secara serentak. Dengan tanam serentak, Rasuli berharap gangguan hama terutama tikus tidak begitu ganas, dan jika terjadi permasalahan peluapan sungai atau kekeringan irigasi, mereka bisa gotong royong bersama menyelesaikannya. Lain lagi dengan Safta dari Talang Babatan, yang harus survive dengan mencoba beraneka ragam tanaman, dari bawang, cabe hingga tomat, sebelum akhirnya menelantarkan lahannya dan beralih profesi dengan membuka warung. Bukan apa, Safta hampir selalu gagal dalam hal panen, hasil panen tidak sebanding dengan pengeluaran untuk pembelian bibit, pupuk dan perawatan lainnya. Safta hanya menyalahkan cuaca yang membuat tanamannya menjadi meranggas, sebentar hujan, sebentar panas. “Rugi” ujarnya.

Rasuli-dan-SawahSawahTanam serentak adalah cara Rasuli dan petani lain melawan perubahan iklim

Tidak hanya Karso, Rasuli dan Safta yang harus beradaptasi dengan perubahan iklim. Mayoritas pemilik kebun di Kepahiang pun sekarang telah mulai survive dengan tidak hanya bergantung pada satu jenis tanaman, mereka terkadang mengkombinasikan tanaman pada satu lahan seperti kopi dan coklat dan sekarang mulai melirik tanaman yang tahan perubahan cuaca. Tanaman Sengon menjadi pilihan. Selain untuk reboisasi juga untuk investasi mereka di masa depan.

Kopi-dan-CoklatKombinasi Kopi dan Coklat adalah cara masyarakat melawan Perubahan Iklim

Sengon

Beralih-Ke-SengonMelawan Perubahan Iklim dengan Beralih Menanam Sengon

Karso, Rasuli, Safta dan Masyarakat Kepahiang adalah potret kecil bahwa manusia mulai membiasakan diri untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim. Bentuk – bentuk adaptasi masyarakat telah bertransformasi dalam berbagai macam cara yang di sesuaikan dengan letak geografis dan sosio-kultural masyarakat.

Beda Kepahiang, beda pula dengan masyarakat lain di Indonesia. Tenggok saya masyarakat Kampar- Pekanbaru yang harus beradaptasi terhadap perubahan iklim dengan cara beralih menanam bibit tanaman pangan lokal dan membendung kanal untuk mencegah migrasi ikan. Tidak hanya masyarakat Kampar, masyarakat di Temanggung, pun mulai terbiasa beradaptasi dengan iklim. Di musim penghujan, mereka menanam cabai dan tomat, dan di musim kemarau menanam tembakau. Cara yang berbeda pun di lakukan oleh masyarakat yang tinggal di pesisir pantai, melakukan penyesuaian waktu melaut, beralih menjadi pencari kepiting bakau, beralih profesi pekerjaan, ataupun membantu pemerintah dalam upaya konservasi terumbu karang dan hutan mangrove adalah langkah-langkah yang mereka lakukan untuk terus bertahan hidup.

Sumbangsih Saran Untuk Pencegahan Perubahan Iklim

Manusia di jaman sekarang tidak dapat menghindari perubahan iklim. Perlu waktu yang panjang bagi alam untuk menata kembali keseimbangannya. Selain beradaptasi, manusia juga harus melakukan mitigasi. Setidaknya wariskan lah bumi yang lebih baik bagi anak cucu.

Mitigasi merupakan langkah-langkah yang dilakukan untuk mengurangi sebab-sebab perubahan iklim yaitu gas-gas rumah kaca (seperti karbondioksida dan metana) dari sumbernya, terutama dari kerusakan hutan dan penggunaan bahan bakar fosil. Selain itu mitigasi juga berperan dalam kesiapan menghadapi bencana akibat perubahan iklim, tanggapan ketika bencana dan pemulihan setelah terjadi bencana. Refleksi Diri, Perbaikan Sarana Transportasi, Reboisasi – Investasi, dan Gaya Hidup Hijau adalah beberapa tindakan yang dapat di lakukan untuk mencegah luasnya perubahan iklim.

Refleksi Diri – Hidup Selaras Alam

Sebagai manusia kita harus merefleksi diri. Pola pikir kita yang menjadikan alam sebagai “bagian di luar diri manusia” adalah biang keladi salah kaprah peran “khalifah” di bumi. Pola pikir ini merujuk bahwa alam hanyalah “pelengkap” takdir manusia. Karena hanya “pelengkap”, maka alam tersedia dan di peruntukkan bagi diri manusia semata, sehingga manusia bebas menggunakannya. Hal inilah yang menyebabkan manusia terus menerus menggunakan dan mengeksploitasi berbagai kekayaan alam dengan pola konsumsi yang konsumtif, tidak terkendali dan tidak peduli akan keberlanjutannya. Lihat saja bagaimana energi di pergunakan secara boros, hutan di babat dengan tanpa ampun, dan air di biarkan menjerit dengan berbagai pencemarannya.

Untuk itu renungkan barang sejenak. Dalam berbagai kitab suci agama pun, Tuhan tidak pernah memberikan kekuasaan mutlak bagi manusia. Kita di perintah untuk mengelola secara arif dan bijaksana, bukan melakukan kerusakan di bumi. Renungan ini akan mengantarkan kita kepada pola pikir bahwa “Kita adalah Alam”. Dalam diri manusia, semua unsur adalah alam. Manusia tersusun dari air, energi, protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral, yang semuanya adalah unsur-unsur alam. Renungan akan refleksi diri ini akan mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa kelanggengan kita sebagai manusia di dunia tidak akan terpisahkan dari alam. Karena kita adalah alam, maka kita harus hidup selaras dengan alam, menjaga keberlanjutan alam sebagaimana manusia menjaga keberlangsungan dirinya sendiri.

Perbaikan Sarana Transportasi Umum

Kendaraan merupakan salah satu penyumbang terbesar rusaknya atmosfer. Booming mudahnya kredit kendaraan menjadikan sarana transportasi massal seperti angkot, bus dan kereta menjadi ditinggalkan. Pertumbuhan pesat jumlah kendaraan baik motor maupun mobil akhirnya memicu tingginya penggunaan bahan bakar fosil, yang berarti memperbesar potensi emisi gas rumah kaca untuk mencemari udara dan atmosfer. Untuk itu diperlukan perbaikan pada sarana transportasi massal untuk menarik minat pengguna kendaraan, sehingga mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Perbaikan itu terletak pada mutu pelayanan dan jumlah kendaraan untuk memberikan rasa aman dan nyaman.

Selain itu penggunaan bahan bakar yang ramah lingkungan adalah kunci lain untuk mitigasi perubahan iklim. Berbagai alternatif bahan bakar seperti pertamax dan bioenergi adalah lebih ramah lingkungan daripada penggunaan premium.

Reboisasi – Investasi

Program reboisasi / penghijauan hutan telah menjadi program rutinitas yang di dengungkan di tengah masyarakat selama ini. Tetapi tidak bijak rasanya, jika para pelaku konservasi ini tidak mendapatkan nilai tambah secara ekonomi dari reboisasi. Karena rata-rata pelaku konservasi adalah para petani dengan pendapatan dan tingkat kesejahteraan yang kurang. Dengan konservasi, siapa tahu mereka mampu mengentaskan kemiskinan di tengah masyarakat.

Dengan reboisasi, hutan akan memiliki kemampuan untuk mereduksi emisi, menjaga keberlangsungan sumber air, dan membantu mencegah berbagai dampak lain dari perubahan iklim terutama longsor dan banjir. Tanaman seperti jati dan sengon adalah yang potensial untuk reboisasi – investasi. Karena jenis tanaman ini mempunyai kemampuan membantu menyuburkan tanah, cepat tumbuh  dan memiliki harga jual tinggi.

Pemberdayaan Kearifan Lokal

Kearifan lokal adalah cara lain dalam mitigasi perubahan iklim. Karena di Indonesia, adat istiadat masih di lestarikan. Di beberapa wilayah Indonesia pun, tetua adat lebih di hormati daripada pejabat pemerintahan. Petuah orang tua ataupun berbagai acara keadatan memiliki pesan moral yang baik bagi alam. Berbagai petuah seperti larangan penebangan hutan ataupun larangan mencari ikan dengan pukat/sentrum, sangat baik bagi masyarakat dalam melestarikan alam.

Kearifan lokal di Hutan WonosadiSalah satu potret kearifan lokal (Pic: diasporaiqbal.blogspot.com)

Green Life Style

Green life style atau gaya hidup hijau adalah pola tingkah laku manusia sehari-hari dalam masyarakat yang berorientasi pada perilaku yang ramah lingkungan. Banyak hal yang dapat di lakukan oleh masyarakat dalam menerapkan gaya hidup hijau dari membiasakan penggunaan sepeda dalam aktivitas sehari-hari, melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik, tidak melakukan pembakaran sampah,dan lain-lain.

Generasi Muda dan Perubahan Iklim

Generasi muda sebagai generasi penerus akan menjadi tumpuan cerah atau tidaknya masa depan alam kita di masa yang akan datang. Perilaku mereka terhadap alam di masa sekarang akan berimbas kepada perilaku mereka di masa depan, jika mereka terbiasa dengan perilaku perusakan alam maka di takutkan akan terus berimbas di masa depan.

Budaya urban telah menjadikan kegiatan bersenang-senang sebagai favorit anak muda, sehingga masalah perubahan iklim di anggap sebagai sesuatu yang sudah seharusnya demikian dan tidak memerlukan kepedulian dari mereka. Istilah “perubahan iklim” mungkin mereka anggap sebagai dongeng orang tua yang ingin menakuti anak-anaknya.

Untuk itu dituntut kepedulian kita bersama dalam mengambil peran menggandeng generasi muda dalam upaya pelestarian lingkungan. Berbagai kampanye dan edukasi dengan memposisikan anak muda sebagai tokoh sentral adalah upaya membuat generasi muda turut aktif berpartisipasi dalam menghadapi perubahan iklim. Berbagai ide dan solusi kreatif mereka sangat diperlukan untuk menanamkan rasa memiliki terhadap bumi dan peduli pada perubahan iklim.

Daftar Pustaka

  • en.wikipedia.org/wiki/Climate_change
  • http://www.ipcc.ch/
  • www.climatechange.gov.au/
  • sains.kompas.com
  • Kolomsosiologi.blogspot.com

kategori kimia alam

kembali ke menu daftar blog

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s