Sampah Pasar Tradisional Sebagai Sumber Energi Alternatif Bagi Masyarakat Provinsi Bengkulu

Oleh Sinly Evan Putra

Pasar tradisional adalah salah satu penggerak sendi perekonomian masyarakat di Provinsi Bengkulu. Hampir semua lapisan masyarakat di Provinsi Bengkulu melakukan transaksi jual beli barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Umumnya yang diperjualbelikan di pasar tradisonal adalah berbagai aneka sayuran, buah-buahan, beras, minyak goreng, pakaian, dan lain sebagainya. Sekarang ini puluhan pasar tradisional telah ada di semua Kabupaten/Kota ataupun Kecamatan di Provinsi Bengkulu.

sampah organik pasar

Salah satu potensi masalah yang timbul dari adanya pasar tradisional di Provinsi Bengkulu adalah masalah sampah yang dihasilkan. Rata-rata satu pasar tradisional akan menghasilkan 5 – 8 ton sampah perhari. Umumnya jenis sampah yang dihasilkan dapat dibagi atas dua jenis yaitu pertama sampah basah yang terdiri dari sampah sayur-sayuran, buah-buahan, dan makanan yang busuk dan jenis kedua yaitu sampah kering yang berupa kertas, kaleng dan plastik. Rata-rata volume sampah basah lebih banyak di bandingkan sampah kering yaitu mencakup 60 – 70% dari total volume sampah.

Berikut adalah tabel beberapa potensi sampah perhari yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) termasuk didalamnya sampah-sampah dari pasar tradisional di beberapa kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu :Tabel

Sejauh ini penangganan atas permasalahan sampah pasar tradisional di Provinsi Bengkulu masih menggunakan tehnik konvensional seperti melalui pengelolaan sistem open dumping pembuangan ke TPA, dijadikan kompos, dibakar, ataupun ada yang dibuang kesungai. Penangganan masalah sampah dengan tehnik di atas cenderung tidak ramah lingkungan dan kurang bernilai ekonomis. Pengelolaan dengan sistem open dumping sering menimbulkan masalah baru yaitu menghasilkan gas polutan seperti gas H2S dan NH3. Pengelolaan sampah menjadi kompos cenderung kurang bernilai ekonomis dan penangganan dengan cara di bakar akan menimbulkan pencemaran lingkungan dan ganguan pernafasan bagi manusia. Sedangkan penangganan sampah dengan cara di buang ke sungai akan memberikan dampak langsung berupa sumber penyakit bagi manusia seperti penyakit kulit dan penyakit menular sedang dampak tidak langsungnya adalah sebagai penyebab terjadinya banjir.

Melihat pada berbagai kelemahan tehnik diatas, maka diperlukan suatu tehnik pengelolaan baru yang lebih ramah lingkungan dan mampu menghasilkan produk yang bernilai ekonomis tinggi. Untuk tujuan ini,  pengelolaan sampah pasar tradisional sebagai sumber energi alternatif patut diterapkan. Cara yang potensial adalah dengan menerapkan teknologi anaerobik untuk menghasilkan biogas.

Teknologi Anaerobik

Pada prinsipnya teknologi anaerobik adalah proses dekomposisi (penguraian) biomassa (residu/sampah) secara mikrobiologis dalam kondisi anaerobik (tanpa oksigen). Secara garis besar bahan baku yang diperlukan untuk teknologi anaerobik adalah berupa sampah pasar tradisional (berjenis sampah basah), mikroorganisme, dan air. Sedangkan perangkat yang diperlukan dalam teknologi anaerobik ini terdiri dari digester sebagai tempat berlangsungnya proses anaerobik, penampung biogas, dan perangkat pemanfaatan biogas yang dihasilkan, serta beberapa komponen pendukung seperti stop kran, pipa, dan perangkat pengaman. Hal ini dengan jelas mencerminkan bahwa teknologi anaerobik adalah teknologi yang murah, karena semua bahan baku tersebut dapat diperoleh dengan cara mudah dan dalam jumlah yang besar. Sedangkan untuk digester dan penampung gas dapat dibuat dari bahan-bahan bangunan seperti semen dan pasir, sehingga biaya pembuatannya relatif murah.

Teknologi Anaerobik

Gambar Desain Sederhana Perangkat Teknologi Anaerobik

Secara ilmiah, biogas yang dihasilkan dari reaktor sampah pasar tradisional ini adalah gas yang bersifat mudah terbakar (flammable). Gas ini dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam kondisi tanpa udara) seperti Pseudomonas, Flavobacterium, dan Methanobacterium. Bila sampah-sampah basah tersebut membusuk, akan dihasilkan gas metana (CH4).

Gas metana terkenal luas sebagai bahan bakar ramah lingkungan, karena dapat terbakar dengan sempurna sehingga tidak menghasilkan asap yang berpengaruh buruk terhadap kualitas udara. Karena sifatnya tersebut, gas metana merupakan gas bernilai ekonomis tinggi. Dari 5 ton bahan baku sampah pasar tradisional yang diolah melalui teknologi anaerobik akan menghasilkan 0,9 sampai dengan 1,8 meter kubik biogas per hari. Dengan jumlah biogas yang sedemikian maka akan cukup digunakan untuk memasak bagi 20 warung di sekitar pasar. Apabila jumlah bahan baku yang digunakan lebih banyak lagi, maka biogas tersebut dapat dimanfaatkan untuk keperluan bahan bakar genset ataupun penggerak turbin pembangkit listrik tenaga uap.

Selain gas metana, produk bermutu lainnya dari teknologi anaerobik adalah pupuk organik yang siap pakai dengan kandungan unsur hara yang jauh lebih tinggi dibanding bahan baku awalnya. Hal ini dikarenakan telah terjadi pemekatan berbagai unsur hara dalam residu proses anaerobik karena lepasnya senyawa kimia karbon dan hidrogen dalam proses pembentukan gas metana. Disamping dua produk diatas, teknologi anaerobik juga mempunyai nilai tambah yaitu :

  1. Biogas diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan minyak yang jumlahnya terbatas dan harganya yang cukup mahal.
  2. Teknologi ini dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan menciptakan kondisi pasar tradisional yang bersih, sehat, dan nyaman.
  3. Mengatasi kelangkaan pupuk.

Penutup

Berbagai manfaat dari penerapan teknologi anaerobik yang telah di jabarkan di atas membuat teknologi ini berkembang pesat di berbagai negara. Meskipun demikian untuk di Indonesia termasuk Provinsi Bengkulu pengembangan teknologi ini belum mendapat perhatian yang memadai, padahal potensi penerapan teknologi anaerobik ini begitu menjanjikan. Dengan pengelolaan yang baik, Provinsi Bengkulu dengan potensi limbah pasar tradisional yang melimpah mempunyai peluang sebagai sumber energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi dalam daerah. Jika di asumsikan se-Provinsi Bengkulu ini terdapat lebih dari 100 pasar tradisional, maka per harinya terdapat 500 – 800 ton sampah yang siap di manfaatkan, dimana selama ini hampir sebagian besar dari sampah tersebut tidak tertanggani dengan baik.

Berbagai keuntungan ekonomi dan sosial akan datang seiring dengan penerapan teknologi anaerobik dalam penangganan sampah basah pasar tradisional. Pengelolaan sampah menjadi biogas akan turut membantu pemerintah daerah dalam meraih penghargaan Adipura, dimana selama ini banyak kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu selalu gagal mendapatkannya karena lingkungan di perkotaan mereka tidak bersih dan banyak sampah yang tidak tertanggani dengan baik. Selain itu dengan di galakkan konversi sampah menjadi biogas akan mampu meningkatkan kesejahteraan dan menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat.

Daftar Pustaka

  • Anonim. 1997. Biogas Utilization. GTZ. http://ww5.gtz.de/gate/techinfo/biogas/appldev/operation/utilizat.html.
  • Faiz Barchia. 2009. Sampah dan Multifungsi Pertanian (Potensi Bengkulu). Situs Web Faiz Barchia.
  • Dewan Redaksi Bhratara. 1995. Biogas, Cara Membuat, dan Manfaatnya. Penerbit Bhratara. Jakarta
  • Teguh Wikan Widodo, Ana N., A.Asari Dan Astu Unadi. 2007. Pemanfaatan Energi Biogas Untuk Mendukung Agribisnis Di Pedesaan. Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian Serpong. Banten

kategori kimia energi

kembali ke menu daftar blog

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s