Aku Berbatik Karena Aku Cinta Indonesia

Oleh Sinly Evan Putra

Aku adalah seorang pencinta batik. Batik bagiku bukan hanya sekedar selembar pakaian, tetapi lebih dari itu, di mana kita bercerita tentang tradisi, gaya hidup, warisan budaya, identitas, dan nasionalisme sebagai anak bangsa menyatu dalam corak ragam motif yang unik, menawan dan tiada duanya.

Tak ada satupun simbol nasionalisme di Indonesia yang merekat dan dapat berpadu nyata dengan raga kecuali hanya batik. Garuda Pancasila, Bendera Merah Putih, Lagu Indonesia Raya yang merupakan simbol identitas utama bangsa, tak kan pernah mampu mengalahkan betapa mempesonanya batik. Simbol-simbol itu hanya dieksklusifkan dalam jiwa tak kuasa merekat padu dalam raga. Batik lebih dari itu, tak sekedar simbol, tapi itulah identitas nyata mu, identitas ke-Indonesian mu.

Batik tak mengekslusifkan diri dalam satu kata, bentuk maupun warna. Batik itu berbeda-beda namun tetap satu jua. Batik tak memposisikan dirinya se-agung Garuda Pancasila, Bendera Merah Putih maupun Lagu Indonesia Raya, yang mengkultuskan diri, yang bila Anda tambah sedikit corak kata, bentuk dan warna, maka akan merubah simbol identitas itu. Cobalah tambah sedikit warna biru pada bendera Merah Putih, atau tambahlah dua buah tanduk pada kepala Garuda, atau tambahlah dua baris kata pada Lagu Indonesia Raya, lihatlah apa yang terjadi ?? saya rasa tak sampai satu hari, Sipir LP Cipinang telah siap menjemput Anda.

kutifan ku

Itulah batik, dia siap dengan berbagai ide-ide kreatif sang perancang, tak peduli waktu, mau motif kuno maupun modern, dari ukiran nyata atau abstrak, dari tulis atau cetak, dari warna merah atau biru, dari bentuk pakaian sampai tas asalkan berpola batik, dia tetaplah batik. Untuk itulah batik mudah di terima oleh masyarakat Indonesia, karena batik tak mematikan ide-ide kreatif anak bangsa, setiap daerah berhak untuk memiliki kekhasan dalam corak dan motif batiknya. Dan batik tak mengenal kasta, siapa pun berhak memiliki pakaian batik yang sama, batik memposisikan diri bahwa setiap orang sama dalam pandangannya, tetaplah Indonesia.

Batik Tak Sekedar “Menulis” dan “Titik”

Batik itu tak sekedar hanya “menulis” dan “titik”, sebagaimana asal katanya dari bahasa Jawa, yaitu “amba” yang bermakna menulis dan “titik” yang bermakna titik. Batik itu lebih dari itu, bukan hanya ragam dan corak tanpa makna, tetapi batik terlahir sebagai akal budi masyarakat Indonesia, yang mengekspresikan kekaguman akan ciptaan ilahi, filosofi hidup dan harapan akan kesempurnaan. Sebut saja batik Keraton yang mengandung makna filosofi hidup dalam setiap coretan dalam motifnya, batik Segar Jagad yang mengharapkan setiap orang yang mengenakan motifnya akan terlihat mempesona, karena makna batik Segar Jagad berarti kecantikan dan keindahan, dan batik Sida Mukti yang mengandung harapan agar apa yang diinginkan bisa tercapai lahir dan batin.

kutifanku2

.Untuk itu kita harus sadar bahwa dalam setiap batik terdapat pesan dan harapan dari sang perancang, doa yang terus ditautkan bersama pakaian/aksesoris batik yang di jualnya, doa agar kita mendapatkan apa yang diinginkan, sebagaimana makna dalam setiap coretan dalam motif batiknya, sebuah harapan, pesona, dan pemaknaan akan filosofis hidup.

Batik dan Lika Liku Perjalanan

Batik tumbuh berkembang, sebagaimana periodeisasi hidup. Berputar seperti roda, kadang di bawah, kadang di atas, terkadang melompat jauh dan ada waktunya mungkin harus tergelincir. Tak selamanya batik akan melalui lika liku jalan lurus beraspal.

Batik pernah mengeksklusifkan diri sebagai pakaian khusus nigrat dengan motif-motif kratonnya, yang “haram” di gunakan oleh orang biasa. Sebelum akhirnya beberapa pengrajin batik pun mengubah motif kraton dengan isen-isen yang rumit dan mengisinya dengan cecek (bintik) sehingga tercipta batik yang amat indah, yang dapat dipakai oleh masyarakat umum. Dan di masa-masa lampau pun, perbedaan gender mempengaruhi tentang siapa yang menguasai keterampilan membatik. Perempuan-perempuan Jawa merupakan penguasa tunggal dalam urusan membatik, sebelum akhirnya teknologi batik cap, merevolusi itu semua, di mana peranan laki-laki mulai ikut mendominasi.

Dalam beberapa belasan tahun lalu, batik pun sempat terpinggirkan, dengan sebutan “kuno dan jadul”, sehingga hanya cocok di kenakan oleh orang-orang yang telah berumur dan terkhusus hanya pada acara hajatan atau hari peringatan tertentu.

Namun itulah roda, dia terus berputar, sekarang dengan tumbuhnya kesadaran akan pentingnya batik, nuansa batik telah berubah, kini batik telah menjadi keseharian masyarakat Indonesia. Sangat mudah untuk menjumpai orang yang mengenakan batik setiap harinya, dari yang masih bayi, remaja, dewasa, ataupun telah lanjut usia, dimanapun dan kapanpun.

Berbagai pakaian dan aksesoris batik telah di jual dimana-mana, di kaki lima, toko batik, maupun di butik batik baik dalam maupun luar negeri. Batik telah terangkat, tak hanya menjadi penghias model-model di jalanan tetapi juga model pada pegelaran busana tingkat internasional. Tak ada rasa malu dari pengguna batik, mereka pun bangga karena gaya motif batik yang di tampilkan begitu berkelas, dan yang terpenting dari semua itu adalah mereka telah menunjukkan ke-Indonesiaannya.

Jadi jangan pertanyakan lagi tentang nasionalisme rakyat Indonesia tentang batik. Lihatlah negara tetangga kita, Malaysia yang harus dicaci habis-habisan karena mengklaim bahwa batik milik mereka. Dunia pun mengakui bahwa batik adalah warisan budaya asli Indonesia,  melalui lembaga United Nations Educational, Scientific and Cultrural Organization (UNESCO), telah mengakui mahakarya batik sebagai  Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober 2009. Dan tanggal tersebut sekarang di peringati sebagai Hari Batik Nasional.

Aku Berbatik, Karena Aku Cinta Indonesia

Nasionalisme ku sebagai orang Indonesia, jangan di pertanyakan. Aku lahir, besar dan hidup di sini, kecemasaan ku hanya satu “sampai kapan Indonesia akan bertahan dari Sabang sampai Merauke”, belum genap 25 tahun ku berdiri, satu wilayah dan beberapa pulau pun telah terlepas. Satu jadi negara merdeka, dan beberapa pulau di rebut tetangga sebelah. Entah 100 atau 200 tahun yang akan datang, apakah nama Indonesia masih ada di peta dunia, aku pun tak tahu.

Tak hanya wilayah, simbol-simbol identitas negara mungkin suatu saat akan terhapus dari sejarah, begitupun dengan batik, tinggal bagaimana peran kita sebagai generasi sekarang untuk turut melestarikan batik. Karena aku cinta Indonesia, maka aku pun berbatik. Batik telah menjadi primadona bagi ku, menjadi pilihan utama menghadap yang maha kuasa, Zat yang Maha Agung, sungguh menyenangkan menghadap yang kuasa dengan pakaian yang terbaik. Dalam berbagai event penting pun, batik menjadi pilihan, ada daya tarik lebih bila menggunakan batik, elegan, eksklusif, berwibawa dan pastinya benar-benar bercita rasa khas Indonesia. Tak salah, bila di lemari pakaian ku pun, batik begitu mendominan. Dan tradisi mencintai batik coba terus ku wariskan pada anak cucu.

Berbatik

Aku Berbatik Karena Aku Cinta Indonesia (Gambar Dokumen Pribadi)

Penutup

Tak ada kata terlambat untuk berbatik, jika anda baru menyadari akan pentingnya mengenakan batik, maka pakailah batik itu sekarang, karena berbatik itu Indonesia. Dan konsep-konsep pelestarian batik tak akan pernah bisa tercapai, apabila kita tak pernah menghargai dan mencintai batik, maka itu mari kita ajarkan anak dan cucu kita untuk peduli batik, karena di tangan mereka lah nasib batik dipertaruhkan di masa depan, apakah tetap mencengkram bumi atau kah hilang di gerus gelombang busana barat. Dan kita sebagai manusia tak akan pernah tahu perjalanan waktu, yang sekarang kita tahu, kita telah berbatik, dan batik itu identitas kita, identitas Indonesia.

kembali ke menu daftar blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s